Senin, 22 Agustus 2016

Peluncuran Buku Strategi B25 dan Kata-Kata Lecutan Harian


Peluncuran Buku Strategi B25 dan Kata-Kata Lecutan Harian – Bagaimana agar mesin uang property anda tidak mangkrak dan dianggap jadul? Nah ini. Sering kan ya, beli ruko, beli apartemen, atau investasi property berakhir dengan mangkrak. Alih-alih menghasilkan uang, yang ada malah mangkrak dan lantas jadi ketinggalan jaman dan susah bersaing dengan property-property baru.

Lalu gimana donk?

Tenang. Pak Cipto Junaedy melalui gebrakan seminarnya, kali ini menulis buku terbaru berjudul “Strategi B25”dan buku suplemennya “Kata-kata Lecutan Harian”.

Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini merupakan bagian terbaru dari seri Strategi Membeli Properti Tanpa Uang Tanpa Utang yang sudah diluncurkan pak Cipto sejak tahun 2009.


Peluncuran buku strategi B25dan Kata-kata Lecutan Harian bersama Cipto Junaedy
Peluncuran buku strategi B25dan Kata-kata Lecutan Harian bersama Cipto Junaedy

Jangan ngotot bayar sesuatu dengan hutang kalau sumber bayarnya ga pasti” – Cipto Junaedy

Pak Cipto telah menerbitkan 3 buku sebelumnya yang berjudul Strategi Membeli Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR Nggak Perlu Nunggu Harga Miring (2009), 6 Bulan Bisa Beli Properti Kontan! Tanpa Uang Tanpa KPR Nggak Perlu Nunggu Harga Miring (2010), Strategi Membeli Bisnis dan Franchise Tanpa Uang Tanpa Utang (2011). Buku-buku Pak Cipto ini sudah berkali-kali dicetak ulang dan menjadi National Mega Best Seller.

Jangan jual rumah. Tapi jual kemudahannya. Cara mudah jadi kaya ya dengan memberikan kemudahan” ujar pak Cipto

Pak Cipto yang seorang pembicara ini juga merupakan mentor dalam bisnis Properti. Sudah banyak murid-muridnya yang berhasil membeli banyak properti tanpa uang tanpa utang seperti ajarannya.

Murid pak Cipto sedang berbagi kisah suksesnya
Murid pak Cipto sedang berbagi kisah suksesnya

Salah satu murid Pak Cipto ini, seorang ibu rumah tangga yang sukses membangun perumahan di sebuah kawasan di Bandung. Ada juga murid yang lain, tadinya tinggal di Australia, masih muda, usianya kurang dari 25 tahun. Si murid ini sampai sengaja pulang ke Indonesia untuk belajar dan menjalankan bisnis properti sesuai ajaran Pak Cipto.

Acara peluncuran buku hari itu ditutup dengan penandatanganan buku oleh penulisnya, Pak Cipto Junaedy.

Saya dan beberapa teman blogger termasuk yang beruntung bisa mendapatkan buku plus tanda tangan langsung penulisnya. Bahkan kami pun berkesempatan mendapat sesi khusus makan malam bersama beliau dan ngobrol-ngobrol santai.



Tanda tangan khusus untuk blogger yang hadir
Tanda tangan khusus untuk blogger yang hadir

Sore itu kami diperkenalkan dengan beberapa muridnya yang sudah berhasil meraih berbagai properti tanpa uang tanpa utang, sesuai ajaran Pak Cipto. Saya dan beberapa teman seperti ketampar-tampar ketika diperkenalkan dengan muridnya yang masih berusia 22 tahun. Huhuhu. Masih muda kog ya udah kaya raya. Punya banyak properti. “Kemana aja ya waktu saya seusia dia?”

Rabu, 17 Agustus 2016

Jadi Bintang Cilik di TV, Mungkin Kah?

Jadi Bintang Cilik di TV, Mungkin Kah? - Hayooo, anak mana yang ga suka jadi bintang? Dan orang tua mana yang ga suka kalau anaknya jadi bintang?

Rasanya, hampir semua anak pengen jadi bintang, entah jadi bintang di TV, di sekolah, atau jadi bintang di kegiatan-kegiatan ekskul. Hampir semua orang tua pun pasti bangga dan senang kalau anaknya bisa jadi bintang. Jika tak bisa jadi bintang di mana-mana, minimal jadi bintang bagi orang tuanya. Ya ga sih?

Tak jarang pula, para orang tua memberikan berbagai fasilitas agar anaknya bisa jadi bintang. Suami saya pernah menemui orang tua yang rela membayar sekian rupiah agar anaknya bisa jadi bintang TV, membiayai rekaman, dsb. Dulu suami pernah diminta membuatkan lagu dan video klip untuk seorang anak. Padahal tak terlalu berpotensi. Tujuannya memang bagus sih, agar sang anak berkembang dan sukses. Tapi kadang jadi memaksakan diri. Anaknya tak terlalu berpotensi, tapi dibiayai untuk jadi bintang. Repot juga kan?

Membaca keinginan sebagian besar orang tua yang begitu ngebet menjadikan anaknya bintang, Miao Mi, saluran Mandarin anak, memberikan jalan untuk itu.

Baca : Belajar Bahasa Mandarin Secara Menyenangkan

Mulai bulan September 2016, Miao Mi akan menampilkan ucapan selamat ulang tahun beserta foto sang anak di saluran TVnya. Orang tua dapat mengucapkan selamat ulang tahun kepada anak dan memberikan kado berupa tayangnya foto anak. Anak akan jadi bintang di hari ulang tahunnya! 

Miao Mi Birthday Star

Miao Mi birthday star ini memang merupakan program baru, yang baru akan tayang di saluran Miao Mi pada bulan September 2016.  So, bagi para orang tua yang anaknya akan berulang tahun dalam bulan-bulan September, Oktober, dst, siap-siap mengirimkan foto dan ucapan ulang tahun yaa. Lumayan kan kalau ditayangkan di TV.



Bagaimana caranya?

*Siapkan file foto anak (kurang dari 12 tahun) yang paling lucu, paling keren, paling unik
* Format foto dalam file JPEG 
* Ukuran file foto minimum 2 MB
* Upload file foto tersebut ke website Miao Mi, http://www.miaomi-tv.com/birthday!
* Foto sudah harus diunggah 1 bulan sebelum bulan ulang tahun 

Oh ya moms, supaya ga pecah, memang ukuran file foto harus besar. So, sebaiknya gunakan kamera yang resolusinya cukup baik untuk proses pengambilan foto agar hasilnya memuaskan. Kan mau ditayangkan di TV nih, kasih foto terbaik donk yaaa *kedip  

Nah kan, ternyata ga sulit ya kalau mau jadi bintang di TV? Mungkin aja kog jadi bintang cilik.

Mau nyoba?

Oh ya, kalau mau menyaksikan saluran Miao Mi, buka channel 38 di Indovision ya, atau saluran 66 di Okevision. 

Ok moms, selamat mencoba 

Selasa, 16 Agustus 2016

Media Sosial dan Kesadaran ASI

Media Sosial dan Kesadaran ASI - Jaman dulu, saat belum banyak akses informasi seperti sekarang, pembicaraan masalah ASI tidak terlalu luar biasa. Orang memandang ASI ya biasa aja. Malah ada kesan kuno dan kampungan. Eitss. jangan marah. Itu mind set jadul yang berkembang lebih dari 20 tahun lalu.

Pada era di mana kampanye ASI tidak segencar kini. Orang masih memandang ibu-ibu yang memberi ASI dengan sebelah mata. Kesannya kalah gengsi sama ibu-ibu yang mampu ngasih sufor. Kesannya, ibu-ibu yang ngasih ASI itu norak, kampungan, ga sanggup ngasih nutrisi terbaik pada bayinya. Hiks..hiks.

Kalau ada ibu-ibu yang cuma ngasih ASI aja, akan dipandang sebelah mata

"ih, kog anaknya cuma dikasih ASI aja? Emangnya cukup?"
"kog anaknya cuma ASI aja? Ga kurang gizinya?"
"pelit amat sih, anak cuma dikasih ASI"

Duuhh, ya, coba itu gimana rasanya jadi ibu-ibu yang ngasih ASI di era itu. Dan saya, termasuk ibu-ibu yang berada di era peralihan dan masa perjuangan. Hahahaha. Ya, masa-masa memperjuangkan agar ASI tidak dipandang sebelah mata. Masa-masa memperjuangkan agar para ibu-ibu melek dan sadar "hei, ga perlu malu lho ngasih ASI aja. Jangan khawatir dengan gizinya".

Mungkin ibu-ibu yang berada di era kesadaran ASI sudah meningkat pesat seperti sekarang ini, akan susah percaya kalau dulu pernah ada era di mana memberikan ASI identik dengan ketinggalan zaman dan gak bergizi.

Saya ingat banget, dulu, curhatnya para ibu di milis asiforbaby kebanyakan tentang cara meluruskan persepsi dan mendapatkan dukungan dari keluarga agar bisa bertahan memberikan hanya ASI saja. Bagaimana menangkis omongan-omongan miring yang meragukan gizi dari ASI.

Wah, perjuangan banget lah. Jaman pompa ASI di kantor itu dianggap aneh. Jaman ruangan menyusui belum ada dan para penggiat ASI berjuang keras merubah mindset. Saya sampai sempat membuat dan berjualan baju menyusui hanya agar bisa menyusui kapan pun, di mana pun. Pernah saya cerita di awal-awal ngeblog.


Salah satu kebaya menyusui yang sempat saya buat


Kini, saat membaca tulisan mak Istiana Sutanti di web KEB, "ASI dan Perkembangan Media Sosial" dan tanggapan-tanggapannya, saya sadar, eranya telah berubah! Yes!

Media sosial dan internet telah banyak mengubah perilaku dan pola pikir para ibu masa kini. Thanks to social media. Hahahaha.

Kalau dulu galaunya cuma ngasih ASI aja dianggap ga sayang anak, sekarang galaunya emak-emak justru kalau gagal ASI. Kalau dulu ngasih sufor itu bangga, sekarang kesannya ngasih sufor jadi semacam aib *cmiiw. Rupanya, sedemikian dalamnya penetrasi kampanye ASI di kalangan para ibu muda ini sampai mampu membuat mereka merasa gagal jadi ibu ketika tidak berhasil memberikan ASI.

Sungguh, ini sebuah evolusi yang luar biasa. Bagi saya ini sebuah kesuksesan kampanye ASI. Media sosial sangat banyak membantu perjuangan ini. Kalau dulu penyebaran informasi hanya sebatas milis. Sekarang hampir semua orang yang bisa mengakses media sosial, bisa terpapar kampanye ASI. Sedikit atau banyak mereka ikut belajar dan terprovokasi untuk mengikuti arus positif ini :).

Kalau dulu bapak-bapak takut dianggap laki-laki yang ga mampu membelikan sufor, sekarang era bapak-bapak bangga mampu mendukung istri memberikan ASI. Thanks to Ayah ASI yang menjadi pionir dalam hal edukasi ASI via media sosial *cmiiw.

Yap, media sosial benar-benar sangat membantu mengubah pola pikir masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan ASI. Ya ga sih?

Di satu sisi bagus banget berhasil membuat banyak ibu sadar akan ASI. Bahkan artis pun kini tak segan-segan "pamer" keberhasilannya memberikan ASI. Bangga bisa memberikan ASI. Semacam sebuah prestasi. Sebuah kebanggaan yang dulunya justru tak berani diumbar. Kegembiraan dan kebanggaan memberikan ASI ini merupakan salah satu bagian dari kampanye ASI.

Namun, di sisi lain, efek ini rupanya memberikan intimidasi dan menimbulkan beragam pro kontra di kalangan para ibu. Ibu-ibu yang gagal memberikan ASI seolah-olah menjadi orang terkucil. Sebuah hal yang justru kebalikan pada jaman dulunya, ibu-ibu yang memberikan ASI yang justru terkucil.

Terlepas pro kontra tentang ASI, ribut-ribut tentang peran ibu. Mari kita syukuri saja era peningkatan kesadaran ASI ini dengan lapang dada. Sebuah kemajuan yang baik yang menjadikan banyak ibu belajar banyak hal tentang ASI dan mau terus meningkatkan pengetahuan tentang hal ini.

Setuju?

Minggu, 14 Agustus 2016

Belajar Investasi Melalui Aplikasi ISTC

Belajar Investasi Melalui Aplikasi ISTC - Sampai hari ini, rasanya masih sedikit yang paham investasi, saham, pasar modal, dan apalah itu, sebut saja ya. Masih banyak yang mengernyitkan dahi ketika diajak bicara tentang saham. Kayaknya kalau udah bicara saham, investasi, pasar modal, dan sejenisnya, macam masuk belantara dan antah berantah mana. Ga jelas. Karena ga jelas, ga paham, akhirnya jadi takut mau masuk. Takut tersesat, nyasar, trus ga bisa pulang. Huhuhu.

Saya termasuk yang awam dan paling takut berhubungan atau berbicara tentang saham. Beneran awam banget deh soal yang satu ini. Diajak membahas saham berkali-kali ya tetep aja ga mudeng. Itu sebabnya saya terkagum-kagum saat tahu bahwa pemenang ISTC 2015 adalah seorang mahasiswa. Takjub! Ada anak muda, paham banget tentang saham.

Dimas, Pemenang ISTC 2015
Dimas, Pemenang ISTC 2015

"Pelajari analisisnya, ikuti sekolah pasar modal" Pesan Dimas pada calon peserta ISTC 2016

Pemenang ISTC 2015 ini adalah mahasiswa tahun ketiga di sebuah universitas. Di usia semuda itu, Dimas sudah paham tentang investasi, saham dan sejenisnya. Ia paham betul cara memantau pergerakan saham, kapan perlu menginvestasikan dana, cara menganalisis, dsb. Sejak ikut sekolah saham dan ikut kompetisi ISTC 2015, ia belajar banyak hal. Tak heran, kini ia memiliki sejumlah saham di beberapa perusahaan. Bisa dikatakan Dimas adalah miliarder muda dengan nilai investasi mencapai 2 miliar!

Keren ya?

Iyaaa, iriiiii *sirik pokoknya mah*

Sayangnya, pemuda semacam Dimas ini belum banyak. Padahal, Indonesia butuh lebih banyak lagi pemuda pemudi yang paham cara mengelola dan mengatur uang, paham cara berbisnis, atau paham cara membangun sebuah usaha.

Oleh sebab itu, Indosat Ooredoo kembali menyelenggarakan Indosat Stock Trading Contest, ISTC, untuk mahasiswa. ISTC 2016 ini merupakan penyelenggaraan kedua yang telah dimulai sejak 11 Agustus 2016. Program ini merupakan bagian dari CSR Indosat Ooredoo dalam bidang edukasi. Para peserta akan mendapatkan edukasi tentang saham dan cara melakukan transaksi via virtual.

Alexander Rusli, Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo
Alexander Rusli, Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo
"pasar modal merupakan salah satu penggerak ekonomi Indonesia. Ayo belajar menjadi investor aktif di pasar modal. Indonesia pasti akan lebih cepat maju" - Alexander Rusli

Hosea Nicky Hogan, Direktur Pengebangan BEI
Hosea Nicky Hogan, Direktur Pengebangan BEI
"Jumlah investor saham terus meningkat sejak kampanye Yuk Nabung Saham pada November lalu" - Nicky Hogan.

Bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Tri Megah Sekuritas Indonesia Tbk (Trimegah), Indosat Ooredoo menghadirkan inovasi baru berupa aplikasi ISTC. Aplikasi ini dapat dijadikan sarana belajar bertransaksi saham secara virtual terhadap sejumlah saham pilihan yang diperdagangkan di BEI dengan harga saham yang diperoleh secara realtime.

Ketiga perwakilan perusahaan foto bersama sambil menunjukkan aplikasi ISTC
Ketiga perwakilan perusahaan foto bersama sambil menunjukkan aplikasi ISTC


Peserta ISTC dibagi menjadi dua kategori, pelajar/mahasiswa dan masyarakat umum. Peserta akan diundang ke bootcamp selama dua hari utuk mendapatkan pendidikan tentang pasar modal. Asyik ya.  Kog ya saya yang jadi pengen *ehhhkk.

ISTC memang lebih ditujukan sebagai sarana edukasi bagi mahasiswa dan pelajar. Tujuannya agar semakin banyak generasi muda yang mampu meningkatkan literasi keuangan. Roadshow ke delapan universitas di Indonesia pun dilakukan. Termasuk mengundang para mahasiswa hadir ke acara peluncuran kali ini.

Duh, enak ya jadi mahasiswa sekarang, banyak fasilitas. Coba saya dulu juga dapat kesempatan semacam ini. Hiahahaha *ngiri*


Oh ya, kalau ada adik-adik atau teman-teman mau ikut kompetisi atau mau tahu lebih lanjut tentang ISTC, bisa cek channel-channel berikut ya
www.indosatooredoo.com/istc

Facebook : Indosat ISTC
Twitter : @indosatistc
Instagram : @indosatistc

Jumat, 12 Agustus 2016

Mencari Rumah Impian, Bagai Mencari Jodoh


Mencari Rumah Impian, Bagai Mencari Jodoh – Hayooo, ngaku, nyari rumah itu, susah atau gampang? Hihihihi. Bingung kan? Ya begitulah, mencari rumah impian itu bagai mencari jodoh. Susah-susah gampang. Dibilang susah ya gak juga. Dibilang gampang, sulit juga kadang-kadang.

Saya aja butuh waktu hampir sebelas tahun setelah menikah baru bisa menemukan rumah yang cocok dan bisa punya rumah sendiri. Telat  banget ya? Setelah anak-anak hampir abg. Selama bertahun-tahun selalu maju mundur urusan beli rumah. Ada saja yang membuat kami akhirnya gagal memiliki rumah.


Bertahun-tahun ke sana ke mari mencari rumah ga ketemu-ketemu yang cocok. Ada yang oke rumahnya, lokasinya kami ga sreg. Ada yang cocok lokasi dan rumahnya, harganya yang bikin ngeri. Ada yang cocok harga, tapi lokasinya kami ga suka. Mulai dari ga cukup dana untuk membayar uang muka, ga cocok lokasinya, ga suka dengan model rumahnya, mahal bayar cicilan bulanannya, sampai sulitnya mengajukan permohonan KPR. Hiks. Paling sering jadi kendala sih urusan mencari harga dan lokasi yang pas. Pengennya kan yang akses angkutannya gampang plus harganya terjangkau *grin

Akhirnya, setelah memaksakan dan mengharuskan diri secepatnya punya rumah sendiri, saya pun mendapatkan rumah yang lumayan cocok. Bukan karena bagus rumahnya, strategis lokasinya atau oke fasilitasnya, tapi karena dari berbagai segi kami merasa menemukan rumah yang sesuai standar minimal.

Bertahun-tahun lelah mencari rumah yang sesuai, saya pun mempersempit pencarian dan mengambil standar minimal. Semacam menurunkan standar“Dah yang penting lokasinya ga jauh dari stasiun dan kami sanggup membayar cicilan per bulan”. Hahahaha, dasar saya memang pecinta kereta. Jadi ajah ga bisa jauh-jauh dari stasiun.

Baca : Sejuta Rumah Layak untuk Rakyat

Kayaknya memang harus kepepet banget baru akhirnya punya rumah. Kalau ga "dipaksa", ga keluar dari zona nyaman *ehh.

Tak terasa, sudah hampir 4 tahun menempati rumah yang saat ini saya tempati. Rumah mungil bersubsidi di pinggiran kota. Ga terlalu ideal sebenarnya. Tapi ya itu tadi, setidaknya memenuhi standar minimal yang terpaksa kami putuskan. Yang paling kami syukuri, cicilannya ga bikin sakit kepala. Sesuai kemampuan kami lah, kredit rumah tapi ga bikin jantungan *ehh. Walau sebagian orang mengatakan "jauh banget sih".

Baca : Tetap Sekolah Meski Hujan

Soal beli rumah, kembali lagi sih, mau beli rumah baru di cluster, rumah bersubsidi di pinggir kota, atau rumah second di tengah kota, asal sesuai keinginan dan budget, ga masalah. Selagi bisa menikmati dan menerima setiap konsekwensi dari keputusan yang diambil.

Singkat cerita, saya pun berurusan dengan BTN. Hiahaha.Padahal bertahun-tahun selalu mengalami kesulitan dengan urusan yang satu ini. Sulitnya mengajukan aplikasi kredit. Tapi, pada akhirnya... ya begitulah. Mungkin memang seperti itulah jalan ceritanya. Sepertinya kami disuruh bersabar dan menjalani berbagai ujian dulu sebelum akhirnya bisa memiliki rumah sendiri.


Andai saja sejak lama bisa dengan mudah berurusan dengan KPR BTN, saya akan memilih rumah yang lebih dekat dengan orang tua. Lumayan banyak yang menawarkan rumah second. Kan pasti lebih enak kalau bisa begitu. Katanya tinggal mengajukan harga ke bank, nanti akan dihitung simulasi KPRnya.

Tapi dulu saya selalu ragu, bagaimana mengajukan kreditnya? Gampang ga? Susah ga ngajuin kreditnya?


Padahal mah, kalau ragu-ragu gitu, mustinya kan bisa coba-coba aja dulu simulasi KPR ya? Suka lambat nih. *self toyor* Hahahaha. Jadi kan bisa diperkirakan, harga rumah sekian dalam waktu sekian tahun, dengan uang muka sekian, saya sanggup ga. Kalau mau cicilan per bulan berapa, musti berapa uang muka dan harga rumahnya, berapa tahun masa kreditnya, dsb. Bisa dihitung-hitung dan dicoba-coba dulu dengan adanya simulasi KPR.

Kalau masih ga yakin juga, mending konsultasi KPR aja sekalian. Bisa konsultasi online atau mungkin bisa datang ke pameran-pameran perumahan seperti yang akan berlangsung di JCC ini.


Pameran properti di Jakarta Convention Center
Pameran properti di Jakarta Convention Center



Kan idealnya cicilan itu maksimumnya tidak boleh lebih dari 30% penghasilan. Ini mah saran dari Safir Senduk yang selalu saya ingat. Biar ga sesak nafas sih tujuannya, jadi 70% sisanya bisa utk kebutuhan lain.

Baca : Bijak Dalam Mengelola Penghasilan 

Nah, saya ingat juga, Safir Senduk mengatakan "nyicil rumah itu jangan takut berlama-lama". Nyicil rumah itu ga kayak nyicil mobil yang dalam sekian waktu akan jatuh harganya. Nyicil rumah itu, semakin lama jangka waktu kreditnya, semakin kecil cicilannya, justru semakin untung.

Loh kog? Lha iya, cicilannya kan jadi makin kecil. Sisa uangnya kan bisa diputar untuk dijadikan modal dan mengembangkan usaha. Uang ga dihabiskan begitu saja, masih bisa untuk modal usaha. Ya ga sih? Sementara mencicil dengan uang kecil dalam sekian tahun, tahu-tahu cicilannya lunas, harganya naik beratus-ratus kali lipat. Untung kan?


So, sebenarnya, mengajukan rumah ga perlu takut kali ya? Apalagi kalau cuma mengajukan kredit rumah secara online yang ga pakai ribet dengan berbagai dokumen dan langsung diajukan. Lumayan juga untuk beli rumah-rumah berikutnya *eh apa deh*.


Memang, mencari rumah itu bagai mencari jodoh, kalau ga dicari ya ga bakal ketemu. Kalau ga sengaja dicari, ya tetap aja ngumpet entah di mana. Kadang memang harus sengaja ke luar masuk kampung, blusukan dari sudut ke sudut.


Malah ada beberapa teman yang hobinya ke luar masuk pameran properti. Mengumpulkan berbagai brosur dan mendatangi berbagai agen perumahan. Mengunjungi berbagai cluster dan kantor marketing, demi mendapatkan berbagai info dan tawaran harga yang menarik. Selagi belum menemukan yang cocok di hati, cari teruuuss. Tul?

Teman-teman sudah bertemu jodohnya? Eh rumah impian? Kalau belum, cari terus yaaa. Semangaatt!


                          

Senin, 01 Agustus 2016

Pantau Tumbuh Kembang Anak dengan PRIMA

Pantau Tumbuh Kembang Anak dengan PRIMA. Anak adalah anugerah terindah yang diterima orang tua. Demi menjaganya, orang tua merawatnya dengan penuh kasih sayang, memastikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Termasuk melakukan pemantauan berkala, untuk memastikan tumbuh kembangnya optimal.

Sedikit saja ada hal-hal yang dirasa tak sesuai, orang tua akan bingung dan bertanya-tanya, "ada apa ya dengan anak saya?"

Nah, demi membantu meringankan tugas orang tua, IDAI, Ikatan Dokter Anak Indonesia memberikan hadiah berupa PRIMA, sebuah aplikasi untuk Orang tua dan juga dokter dalam membantu mereka memantau tumbuh kembang si kecil.

Apa dan Bagaimana Aplikasi ini?

Simak yuk melalui foto-foto berikut

Penjelasan tentang aplikasi PRIMA

PRIMA adalah aplikasi digital pertama yang secara resmi dikeluarkan oleh IDAI untuk memudahkan para orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak.

Dengan adanya aplikasi ini, diharapkan para orang tua akan merasa terbantu dalam melakukan pemantauan sendiri terhadap tumbuh kembang anak-anaknya. Orang tua dapat melakukan pemantauan, apakah tinggi anaknya sudah sesuai dengan rata-rata anak sebayanya.Apakah beratnya sudah sesuai dibanding tinggi dan usianya.


Apa saja Menu-menu dari aplikasi ini?


Melalui aplikasi ini, orang tua akan dapat mengetahui dan melakukan record

1. Jadwal Imunisasi

Fitur ini menampilkan jadwal imunisasi untuk anak. Orang tua dapat menyimpan data imunisasi apa saja yang sudah dilakukan dan kapan imunisasi tersebut diberikan. Nantinya aplikasi ini akan membantu orang tua mengingatkan jadwal imunisasi selanjutnya 

Grafik Pertumbuhan WHO dan CDC

Fitur ini dihadirkan untuk memantau pertumbuhan anak, apakah sudah sesuai pertumbuhan rata-rata anak seusianya. Ada grafik WHO untuk anak usia 0-5 tahun, dan grafik CDC untuk usia 5-18 tahun.

Fitur ini akan memudahkan orang tua dalam memantau berat maupun tinggi badan anak. Bisa dilihat dari sisi berat badan atau tinggi badan. Apakah sudah sesuai dengan tinggi dan berat rata-rata usia? atau kurang gizi? Atau masuk kategori obesitas? Tinggal dicek grafiknya.

Agar mudah menggunakan fitur ini, orang tua perlu mempunyai data berat dan tinggi badan anak. Jika ingin hasil yang akurat, ada baiknya melakukan pengukuran di fasilitas atau layanan kesehatan terdekat, misalnya puskesmas, posyandu, RS, klinik, dsb.

Dengan adanya fitur ini diharapkan agar pertumbuhan anak-anak Indonesia semakin terpantau dan bisa segera terbebas dari tingginya kasus gizi buruk.


Saat mencoba fitur ini, saya sempat kebingungan, bagaimana menginterpretasikan grafik yang ditampilkan. Mungkin ada baiknya grafik yang ditampilkan diberikan keterangan atau penjelasan hasil grafik, apa interpretasi grafik tersebut. Bagaimana berat badan anak terhadap tinggi maupun usianya.

3. Tahap Perkembangan Anak

Fitur ini dihadirkan dengan harapan orang tua dapat mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang tahapan perkembangan anaknya. Ada 2 isu utama yang ada dalam fitur ini

1) Tahapan dan Tanda Bahaya Perkembangan

Fitur yang tampil dalam bentuk kuesioner ini hanya perlu diisi atau dicheck. Fitur ini akan memudahkan orang tua dalam memantau perkembangan tiap anak sesuai kelompok usia.

2) Stimulasi perkembangan

Fitur ini berisi informasi seputar stimulasi apa yang tepat diberikan pada anak, sesuai tahapan perkembangan dan kelompok usianya. Misalnya, bagaimana memberikan stimulasi kemampuan gerak halus pada bayi 0-3 bulan.

4. Kuesioner Kunjungan ke Dokter

Sering panik kan kalau anak-anak tiba-tiba sakit? Perlu ke dokter ga ya? Sakitnya apa sih?
Fitur ini akan bisa sedikit mengurangi kekhawatiran orang tua ketika menghadapi anaknya yang sakit.

Fitur ini terbagi dua,
1) Kuesioner sebelum ke dokter
2) Kuesioner saat ke dokter
Kuesioner pada fitur ini pun terbagi lagi menjadi kunjungan anak sehat dan kunjungan anak sakit. Apa saja yang perlu dicek, data apa saja yang diperlukan dan perlu diperhatikan oleh orang tua, dapat disimpan di fitur ini.

5. Materi Edukasi Orang Tua

Fitur ini berupa materi bagi para orang tua, panduan dalam perilaku hidup sehat dan aktivitas bagi anak.



6. Skrining

Fitur ini berguna untuk mendeteksi gangguan kesehatan anak secara umum. Ada fitur kuesioner KPSP, Kuesioner Pra Skrining Perkembangan yang dapat diisi dan dijadikan acuan saat kunjungan ke dokter.



Keren kan fitur-fiturnya?

Sekarang, bagaimana cara menginstal aplikasi PRIMA?
1. Buka Play Store pada perangkat smartphone
2. Ketik PRIMA pada pencarian
3. Pilih aplikasi PRIMA yang mempunyai tulisan Ikatan Dokter Indonesia (IDAI)
4. Klik instal
5. Tunggu sampai selesai dan aplikasi siap digunakan


Bagaimana? Asyik ya, dengan aplikasi ini, orang tua bisa yakin kalau anaknya sudah Prima. Tak perlu lagi merasakan kecemasan setiap saat. Kalau sedang cemas, buka-buka deh aplikasinya, coba cari info kesehatan atau cek stimulasi apa yang perlu diberikan pada anak pada usia tertentu.

Andai aplikasi ini sudah ada sejak dulu.

Walaupun anak-anak sekarang sudah melewati masa seribu hari pertama, kehadiran aplikasi ini menjadi harapan positif bagi saya dan banyak orang tua. Semoga dengan aplikasi ini akan membantu banyak orang tua yang kebingungan akan tumbuh kembang anaknya.

Oh ya, kalau kesulitan memulai utak atik aplikasinya, ini ada video aplikasi yang diunggah mb Astri yaa